Jumat, 04 Januari 2013

Three is the new couple.

"Kenapa lo? Kok jadi diem?"

Frequently asked question of the day.

I really do enjoy life.
I'm just not so good at it.

So in the meantime,
The question remains unanswered.

Kamis, 20 Desember 2012

12-12-12

See? Sudah kubilang, tidak ada istilah persahabatan di antara laki-laki dan perempuan. Kecuali, salah satunya adalah penyuka sesama jenis. Karena sengaja atau tidak disengaja, persahabatan lawan jenis hanyalah pertemanan yang dilebih-lebihkan atau pendekatan yang diperhalus bahasanya. :)

Masalah menyatakan perasaan, tidak peduli kamu teman-temanan atau sahabatan, menyatakan perasaan adalah hak. Selama ini “pertemanan“ menganggap bahwa menyembunyikan perasaan juga bagian dari “pertemanan“. Kalau pada akhirnya kamu mengetahui dia tidak merasakan apa yang kamu rasakan, semoga tidak karena kamu terlalu lama menyampaikan perasaan. Dua hati tidak selalu jatuh bersamaan, kayak tatap-tatapan, kemudian “DHUARRR!” jatuh cinta bareng. Itu artinya, kalau kamu suka dia duluan, seharusnya kamu mengambil kesempatan untuk membuatnya suka padamu, selain menunjukkan dan menyampaikan kau suka padanya


Terkadang kita memerlukan strategi di dalam menyampaikan sebuah kejujuran, apalagi perihal perasaan. Cobalah mencari cara untuk menyatakan kejujuran itu dengan menarik, supaya orang itu tidak hanya percaya, tetapi juga tertarik.

Minggu, 16 Desember 2012

Pertemanan pembunuh sebuah cinta, atau sebaliknya?

Ada yang bersembunyi dibalik hati mereka.
 
Sebuah bangkai bisa jadi tak akan pernah tercium selamanya. Jika seseorang yang mencium baunya pura-pura tidak mencium, atau menyangkal sedang mencium bau bangkai.


Namun perasaan cinta bukanlah bangkai. Meski terselip dalam sebuah hubungan rumit bernama “pertemanan”, perasaan tetaplah perasaan. Aku orang yang percaya pada sebuah ungkapan;

Cewek dan cowok tidak pernah bisa menjadi best friend sepenuhnya.

Intensitas ketemu, ngobrol, dan saling terbuka mungkin saja perlahan, sedikit demi sedikit menumbuhkan benih-benih cinta, atau minimal suka. Dalam sebuah pertemanan seorang cowok dan cewek, bisa aja ada salah satu pihak yang sempat berpikir, “Dia baik banget. Mungkin gak sih gue suka sama dia? Apa mungkin kita jadian?”


“Kalau bukan suka? Kenapa gue cemburu kalo dia sama yang lain? Padahal kita cuma temen.”

Dan akhirnya pemikiran dan perasaan itu dibunuh dan dikubur dalam-dalam dengan batu nisan bertuliskan “atas nama pertemanan” tertancap di atasnya.

Dari contoh di atas, kadang aku berpikir pertemanan itu kejam. Sebuah pertemanan di antara dua manusia berbeda jenis kelamin, kemudian tumbuh rasa-rasa di dada. Apakah itu semua salah manusia? Bukankah cinta datang sendirinya tanpa diduga-duga?


Banyak orang yang rela membunuh rasanya sendiri hanya untuk menyelamatkan kedekatan dengan dia (dalam wujud teman) yang dipuja, dan untuk tetap bisa menjalani kebiasaan-kebiasaan bersamanya (meski dalam wujud teman).

Sederhananya, ada yang memilih memendam rasa hanya karena takut jadi jauh karena dia gak punya perasaan yang sama.

Miris, memang. Namun apa daya? Memang kadang rasa cinta yang tiba-tiba ada bisa menghancurkan jalinan pertemanan yang sudah dibangun sejak lama. Atau sebaliknya, status pertemanan yang ada membunuh sebuah cinta yang bersemi tiba-tiba.


“Nggak kok. Gue sama best friend gue gak ada rasa apa-apa.”

Mungkin kamu bilang nggak. Mungkin dia bilang nggak juga pas ditanya.

Tetapi di dalam hati, gak ada yang pernah tau, bahkan diri kamu.

Lalu, siapakah yang berharap dalam hubungan pertemanan kamu dengannya? Dia, atau kamu? Dan sampai kapan mau membohongi diri sendiri?

Pertanyaan terakhir dalam hidupmu adalah…

Apakah pertemanan dan kedekatan itu lebih berharga dari rasa cinta yang tercipta? Dan apa kamu tega membunuhnya?
Dan apakah saya (kamu) telah merusak hubungan pertemanan itu? :)

Sabtu, 10 November 2012

We are...

Beberapa hari ini saya sering berpikir tentang apa yang akan terjadi dengan kita? Iya, sesuatu yang sudah tertutup tapi wanginya masih bisa terasa. Kemana alur ini akan kita bawa? Tetap berhenti di dermaga kecil dengan makanan seadanya, sedikit pahit memang, tapi ini cara kita agar bisa bertahan hidup. Atau melanjutkan ke pulau yang ada di depan mata? Jika sudah siap tentunya.

Mungkin lebih tepatnya kita tau kita telah melakukan dosa. Kamu sadar, aku tau kamu sadar. Sudahlah, disinipun sama. Ketika persediaan air abis, dimana kita bisa minum? Mencari sumber air terdekat. Seperti itu.

Percakapan, aku menunggu percakapan itu. Aku ingin masuk kedalamnya, mungkin ada banyak cerita dalam percakapan itu. Syukurlah jika kamu yakin akan hal itu. Mungkin jika dermaga ini roboh, kita akan mencapai pulau yang kita tuju. Entah itu terbawa arus, atau akan ada beberapa ikan yang mau membawa kita ke tempat tujuan. Sedikit mustahil, tapi yakin.

Akhirnya aku tersenyum lagi, senyum yang kecil, senyum yang sama yang pernah kulempar di saat aku tahu bahwa aku bukan orang yang bisa mengindahkanmu. Seharusnya aku lebih berekspresi, sebab kebohongan kita ini amat menyentak. Aku ingin melangkah mundur sambil memberimu tepuk tangan. Kau hebat. Ini panggungmu, tempatmu lihai bersandiwara, sementara aku terlampau merasakanmu.

Mmmh, kamu tau bagian terbaiknya apa? Bagian terbaik dari setiap lembar ceritaku bersamamu adalah cara dirimu tersenyum dan memanggilku. :) 

Kamis, 27 September 2012

Coret-coret

Ia adalah perempuan yang tidak ingin kehilangan perasaanku, meski ia tak tahu bagaimana perasaannya sendiri. Ia bisa datang untuk menagih senyum hangat yang biasa ia terima, ia bisa pergi untuk memberi senyum yang biasa dirindukan. Ia tidak tahu seperti apa ia berputar-putar di dalam kepalaku, ia tidak tahu siapa-siapa saja di seisi kepalanya. Ia memiliki keinginan yang banyak, aku tahu aku bagian kecil di antaranya. Aku tidak habis pikir mengapa ia tidak tahu bahwa aku begitu mengetahuinya, sebab mungkin yang ia ingin tahu hanyalah rasa keingintahuanku saja. Ia membuatku kesal karena ia bingung, tetapi aku membuatnya bingung karena aku kesal. Jadi siapa yang salah? Apakah aku terlalu egois karena aku laki-laki yang yakin siapa aku, ataukah ia yang terlalu merengek karena ia perempuan yang tidak yakin kepada semua laki-laki?

Rabu, 26 September 2012

You're not lucky

Jadi ingat kata orang dulu, “selama janur kuning belum melengkung, sikaaat terus!” Tapi begini..

Aku tahu ini konyol, tetapi biasanya aku selalu menanamkan satu kalimat di kepalaku, yaitu apabila ia menolakku, berarti ia belum beruntung. Sebab tidak banyak yang beruntung, dan berani menganggukkan kepalanya saat aku meminta hatinya. Hehehe.. Aku tahulah ini terdengar congkak. Tetapi sebenarnya tidak. Ini sedikit motivasi yang lucu untuk aku tetap semangat. Aku pernah mengatakan, “kehilanganmu tidak membuatku kehilangan selera humor.” Jadi ya kalau seseorang memilih orang lain daripada aku, aku rasa itu bukan suatu hal yang aneh. Setiap orang memiliki perasaan, dan setiap orang memiliki hak untuk memilih kepada siapa perasaan itu diberikan.

Aku keras kepala, tetapi aku tidak suka memaksa, seperti aku tidak mau mencium orang yang tidak menyukaiku, sekalipun ia pasrah. Jika permasalahannya adalah aku sedang mendekati orang yang hatinya diisi oleh orang lain, kupikir aku masih punya ruang untuk bertahta di kepalanya, setiap hari, setiap malam. Aku tidak suka mundur dalam memperjuangkan seseorang. Jika memang harus mundur, aku akan melakukannya dengan moonwalk, seperti Michael Jackson. Hehehe..

Intinya, jangan sampai karena aku mendekati seseorang, aku jadi jauh dari diriku sendiri. Maka selama diriku tetap yang terdekat bagiku, aku tidak pernah mengalami masalah jika ditolak. Itu jika! :)

Selasa, 25 September 2012

Menoleh, lalu berjalan

Lama tidak dengar kabarmu, bagaimanakah kamu sekarang? Semoga kamu dijaganya baik, jangan sampai percuma melepas aku. Jauh dariku bukan berarti tanpa tertawa. Meski ia tidak selucu aku, janganlah jatuh air matamu. Meninggalkan aku sendiri di sini kan seharusnya bukan pilihan untuk bersedih sepanjang hidup. Semangatlah untuk membuat dirimu mencintainya!

Memang sesekali aku coba mencinta dengan mencium, mendobrak pintu hatiku dengan kecupan. Namun apa mau dikata, malah luka perasaan orang. Apa cinta yang meledak-ledak menghancurkan hati sendiri? Sebab setiap bunyi hantaman keras, kudengarnya bagai namamu.

Beberapa menyukaiku dengan lembutnya, hanya tak sedalam kamu mengenal aku. Kamu lebih dari masa lalu, seperti pahlawan yang tidak mungkin hanya karena ada luka kecil, dapat terlupakan perjuangannya. Jika ada sejuta mulut yang menyoraki aku berengsek, aku percaya kamu tetap memiliki suara sendiri. Itulah! Sesekali memang aku suka berkata bodoh, membencimu karena jauh. Sebab menyakitkan, kamu hadir untuk kuingat, seperti datang untuk berpamit. Terkadang ini yang membuatku berharap cemas, di mana kiranya keseluruhanku dapat rubuh, sehingga dari atas panggung aku terjatuh, kemudian mendarat di pangkuanmu. Sekarang setelah semuanya ingin kumulai sendiri, tiap kepingku telah menjelma menjadi nyawa dan memberi hidup bagi tiap kata yang melengkapkan sepi setiap orang.